Saya adalah termasuk orang-orang yang merugi!!!
6 f, 2007
Hari minggu lalu aku tercenung sendirian sambil menikmati kopi dan gorengan yang telah tersedia di meja memikirkan kejadian-kejadian yang begitu cepat berlalu.
Dua bulan yang lalu
Pagi – pagi itu sebelum anakku bangun dari tidurnya yang lelap, kulihat posisi tangan kanan diatas dan tangan kirinya memegangi baju mama-nya, sementara mulutnya tanpa henti mengunyah “empeng” dan sesekali kepalanya bergerak seperti orang sedang bermimpi. Lalu aku sempatkan untuk memandangi wajahnya yang sangat polos tanpa dosa dengan penuh perasaan. Kenyataannya adalah ah….. sangat tampan sekali anakku dan bangga sekali rasanya jadi bapak.
Tiba-tiba ada seseorang berbicara dibelakangku. Ternyata dia adalah ibu dan bapak mertuaku (ya… saya masih PMI-Pondok Mertua Indah), ibu mertuaku menggumam, “Anakmu wis isoh dijak dolanan lho.” bapak mertua menimpali,” ho’oh wong mau tak liling wis ngerti trus ngguyu ngekek-ngekek.” Ah pingin segera dia bangun dan membuktikan ucapan beliau berdua. Setelah bangun kuajak bercanda sebentar buat membuktikan eh ternyata benar. Duh nyeselnya aku, nggak tahu perkembangan anak. Ah aku ermasuk orang-orang yang merugi!!!
Sebulan yang lalu
Pulang kerja jam 18.00 nyamperin istri di tempat kerja lalu pulang melewati jalanan yang penuh sesak oleh mobil-mobil pemudik, sampai rumah istri langsung masuk rumah trus aku menyandarkan brompit (sepeda motor) masuk rumah sambil bawa tas jinjing yang setiap saat setia menemani. Dengan tergopoh-gopoh ibu bilang “Nduk mas anakmu panas…” Lalu kujawab “Tenang bu nanti juga turun sendiri kalo dikasih obat penurun panas.” 1 jam kemudian memang benar ucapanku, panas anakku mulai turun. Sehari kemudian setelah pulang dari rutinitas kerja yang melelahkan aku dikasih tau ma ibu mertua “Mas anakmu kemaren panas kuwi jebule arep mundak pintere!” “Wah tambah pinter apa lagi dia?” tanyaku dalam hati. Ternyata dia sudah mulai tahu kalo diberitahu sesuatu. Kayak kalo ditanya, “Dimana cicaknya?” dia langsung mendongak lihat keatas lalu kayak mencari sesuatu di dinding dimana hewan yang bernama cicak itu biasa berada. Duh duh hatiku tambah senang bercampur haru. Senangnya adalah tahu anak berkembang cepat seperti anak kebanyakan, terharunya kok aku tahunya belakangan seperti yang sudah-sudah dalam mengerti perkembangan anak. Aku termasuk orang-orang yang merugi!!!
Seminggu yang lalu
Waktu buka-buka milis di yahoo ada sebuah milis yang menceritakan tentang orang tua muda yang anaknya menjadi korban akibat suntikan imunisasi. Yang singkat ceritanya anaknya yang berusia sudah 27 bulan menjadi pengidap autise akut setelah selama itu mendapat suntikan imunisasi yang mengandung thiomersal/thimerosal. Setelah membaca itu perasaanku gundah karena hari sabtu kemaren anakku harus imunisasi, lalu dengan bantuan paman google sekali lagi kutemukan jawaban yang dapat menentramkan hatiku. Apakah itu thiomersal/thimerosal? yaitu sejenis bahan pengawet dan stabilizer dalam vaksin yang berguna dalam membunuh bakteri dan mencegah kontaminasi terutama pada kemasan vaksin yang telah terbuka. Seterusnya anda dapat melihat atau membaca sendiri di sini. Atau disini untuk dapat lebih lengkap membaca dan terdapat link-link yang bekaitan dengan itu secara rinci.
Nah pas hari sabtunya aku harus masuk kantor, jadi aku tidak bisa nganter istri ke rumah sakit tempat kelahiran anakku untuk mengimunisasi anakku. Satu lagi kejadian yang benar-benar membuatku merasa menjadi orang-orang yang merugi!!!
Entry Filed under: Cerita. .
15 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed









1.
mutia | 8 f, 2007 at 9:01 am
Tapi setidaknya, “kesadaran akan kerugian” ini gak cuma sebatas tulisan di blog. Gimana pun juga, itu anak kamu. Be a good parents!!
2.
beratz | 8 f, 2007 at 9:33 am
@ mutia
setidaknya dengan menulis disini menjadi cambuk dan instropeksi bagi saya untuk terus memantau perkembangan anak saya. salam kenal mbak mutia dan terima kasih atas kritikannya.
3.
morishige | 8 f, 2007 at 9:37 am
justru karena seseorang sadar bahwa dia merugi, dia TIDAK akan menjadi orang yang merugi.
hehehe..
4.
beratz | 8 f, 2007 at 9:51 am
@morishige
yah itulah…. setidak tidaknya dengan menyadari kerugian itu paling tidak mengurangi beban di pundak terhadap rasa bersalah itu
5.
gimbal | 8 f, 2007 at 1:11 pm
itu minum kopi sambil makan gorengan aja… apa ada rokoknya mas…??
*ambil sandal jepit… ngaciiirrr*
6.
goop | 9 f, 2007 at 3:50 am
Wew, saya nda ngerti sama sekali
tentang anak beranak inih,
sepertinya menggembirakeun, jadi pengen paman
7.
beratz | 9 f, 2007 at 4:04 am
@gimbal
wah nggak ada rokoknya tuh soalnya ada anak kecil dirumah, takut mbikin batuk dia. Jadi rokok cuman kalo diluar ato dikantor aja
*wah ngambil sandal jepitku ya….? salah ambil tuh*
@goop
makanya cepetan kawin eh nikah kawan biar bisa merasakan surganya dunia. dan tulisanmu semakin puitis. soalnya nikah itu 20 % enak tapi 80% uenak sekali.
8.
Hanna | 10 f, 2007 at 4:05 pm
Tidak ada yang merugi untuk anak2 kita. Semua orang tua selalu berjuang, mau berkorban untuk anak2nya. Salut, udah jadi orangtua yang baik untuk anaknya.
9.
superkecil | 16 f, 2007 at 5:47 am
orang tua teladan….
kok potoh anaknya ga ditampilin bang?
10.
deKing | 19 f, 2007 at 8:13 pm
Pak, setidaknya kerugian itu bukan benar2 suatu kerugian karena “kerugian” itu datang karena ingin memberi “keuntungan” (baca: bertanggung jawab) kepada keluarga
“Kerugian” itu muncul sebagai akibat dari suatu bentuk pertanggungjawaban…
Sekarang milih mana antara bisa mengamati perkembangan anak tiap saat tapi ga bisa kerja atau tetap kerja demi keluarga walau hanya bisa mengamati sang anak di waktu2 yg tdk trlalu banyak?
11.
beratz | 23 f, 2007 at 2:58 am
@hanna
alhamdulillah saya sudah berusaha sekeras-kerasnya jadi orang tua yang menurut saya baik.
Makasih komen dan hampirannya
@superkecil
makasih om, tuh yang dijadikan header pojok kanan atas adalah anakku dengan nyenyaknya tidur sambil ngempong
Makasih dah sudi mampir dan komen
@deKing
yah itulah dilemanya.. dengan mengorbankan perasaan selama di kantor saya selalu mencoba mengingat dan memahami perasaan saya sendiri dengan tidak selalu berada disamping anakku sendiri. Tapi saya sudah berusaha sebaik dan semampu saya abang.
12.
bangbadi | 18 f, 2007 at 9:04 pm
Semoga menjadi pembelajaran yang berarti.
13.
beratz | 27 f, 2007 at 3:32 am
@bangbadi
Amiin……
Salam kenal bang
makasih dah mampir
14.
Ulan | 17 f, 2008 at 1:57 pm
Mengharukan..,
Jadi pengen punya anak…
15.
Lea | 31 f, 2008 at 8:46 am
Senengnya punya anak, oia mau tanya artinya raffa apa ya? Trus itu diambil dr bhs apa, (suka banget sm nama itu).