Jualan yang paling laris sekarang adalah yang berbau bangkok. Asal ada kata bangkok dibelakangnya pasti laris manis. Kayak sekarang lagi musim kelengkeng ma durian. Eh semuanya bangkok. Kok ya tega-teganya para pengimpor buah itu kenapa nggak memberdayakan tanaman buah yang dibudidayakan oleh orang endonesa sendiri? Kok mesti ndadak ngimpor dari negri gadjah putih itu. Thailand… thailand negeri dengan segudang bangko-bangkok lainnya. Ada ayam bangkok, jambu bangkok, kelengkeng bangkok trus durian bangkok.

Tanpa meremehkan hasil pertanian endonesa, apalagi ada kebun buah bertaraf internasional di endonesa yaitu Taman Wisata Mekarsari yang notabene untuk memamerkan hasil produk pertanian kita. Yang katanya juga punya laboratorium pengembang buah-buahan. Tapi kok ya masih kalah dengan bangkok punya.

Lha wong orang ndeso kalo melihat kemudian memberi komentar sesuatu yang bagus dan besar pasti ngomong “wah bangkok tenan yo” (wah benar-benar bangkok). Soalnya udah telanjur menjadi suatu image kalo ada kata bangkok dibelakang buah/orang itu pasti bagus dan besar.

Kemaren juga… waktu jalan-jalan/klinthong-klinthong ke solo (tujuannya pasti ke Solo Grand Mall lha wong itu yang lagi jadi trendsetter di kota solo) kami sekeluarga masuk ke supermarket yang ada disana. Setelah aku berjalan sana sini tanpa tujuan (kalo istri sih udah ambil sana ambil sini keperluan keluarga) tiba-tiba mak bedunduk aku terkaget-kaget lihat setumpukan durian yang katanya dari bangkok sono. Harganyapun kalo diitung-itung sedengan lah. Tapi kalo dibandingkan dengan harga durian lokal kalo pas ada musimya, masih terhitung murah. Ini perbandingannya, lha wong dengan harga 1 kilo-nya 9000 rupiah dan rata-rata berkisaran antara 3-4 kilo berat kotor maka harga menjadi antara 27.000 ampe 36.000 tapi isinya bisa untuk 1 keluarga (berkisar antara 6-8 buah) dan ponggenya amat sangat kecil dibandingkan dengan daging buahnya sehingga makan satu aja udah marem. Jan mak nyuss tenan (pinjem istilah mas bondan winarno di program kuliner salah satu TV swasta kita ). Lha kalo durian lokal harga antara 20.000 ampe 30.000 tapi daging buah cuman sakklametan thok. Dan bila ingin marem menikmati durian harus beli satu lagi dan supaya bisa dinikmati sak keluarga (minimal 4 orang). Trus biji ponggenya sak genggemane bayi. Mana bisa tahaaaaaaaa….n?

Itulah yang membedakan endonesa dan thailand, mereka punya visi dan misi yang kuat dari pemerintah untuk menyejahterakan petaninya. Tapi endonesa?

Wassalam