Lebaran sebentar lagi, bisa beli baju baru Alhamdulillah.

Dalam kepala menari-nari sebuah pertanyaan, yaitu kenapa pada saat lebaran semua orang pasti punya duit banyak? apa pada saat sebelum lebaran semua menabung buat nanti lebaran? Tapi tadi pagi pada saat mbaca di koran lokal ada berita penodongan alias perampokan. Dan saya pikir pasti itu rampok butuh uang cepat buat lebaran juga. Semua memang butuh lebaran, tapi caranya itu yang bikin kita berpikir 2 kali. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Tapi menjelang lebaran pasti banyak sekali orang yang silaturahmi dengan ortu, famili dekat, famili jauh, tetangga dan masih banyak lagi dengan istilah “MUDIK”

Salah satu ustadz di daerah saya pernah bercerita pada jaman rasulullah pernah ditanya oleh seorang Badui (penduduk lokal), “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab,”Beriman kepada Allah.” Kemudian si Badui bertanya lagi,” Apa lagi ya Rasulullah?” “Menyambung tali silaturahmi.” Nah dari percakapan diatas antara Rasulullah dan orang desa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penyambung Silaturahmi dapat menjadi usaha untuk mencapai ridhlo Allah SWT dan mendapatkan Cinta Allah.

Yang kemudian ditarik ke jaman sekarang yaitu terjadi fenomena “MUDIK”. Istilah mudik adalah pulang ke kampung halaman. Ya mudik sekarang menjadi trendsetter yang sangat heboh jika dilakukan pada saat menjelang Lebaran. Yang sibuk tidak hanya yang mudik saja tetapi mulai dari Pemerintahpun menjadi sibuk menyiapkan sarana maupun prasarana dalam rangka pemudik dapat mudik dengan nyaman dan aman. Bagi sebagian penduduk di Endonesa tercinta ini “Mudik” adalah hal yang wajib dilakukan karena disamping menyambung tali silaturahmi juga untuk mempererat tali silaturahmi antara yang merantau dan yang dikampung halaman.

Dari fenomena mudik dan disesuaikan dengan judul diatas tersebut banyak dilakukan dengan berbagai cara mulai angkutan darat, laut, dan udara (kayak iklan anti mabok). Nah yang paling menarik untuk disimak adalah mudik lewat angkutan darat dari Kota Metropolitan Jakarta menuju kota-kota di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Jakarta sebagai kota besar memang menarik bagi para pencari nafkah, mereka rela merantau jauh dari sanak saudara dengan pengharapan besar bahwa akan bisa sukses di jakarta dan akan mudik menggunakan mobil pribadi, bawa uang banyak (buat kasih angpao), bawa perhiasan bahkan bisa bawa istri. Sungguh bayangan yang bisa membuat semua orang ngiler bahkan sampai sekarang.

Dulu waktu saya kecil yang namanya mudik pasti menggunakan mobil pribadi atau angkutan umum (kereta api dan bus), tapi sekarang dikarenakan ongkos angkutan umum semakin mahal karena harga BBM yang naik mulu tanpa bisa turun maka berbagai cara ditempuh agar bisa “Mudik” atau “Pulkam(pulang kampung)” yaitu naik Sepeda Motor, naik Bajaj, atau naik truk.

Di kota kecil dimana aku dibesarkan dan membesarkan anak sudah mulai banyak dijumpai pemudik pake motor. Duh rasanya gimana ya? Aku yang belom pernah mudik sebenarnya pingin merasakan mudik itu seperti gimana rasanya, tapi mengingat dan melihat di media informasi bagaimananya sulitnya mudik itu niat tersebut aku batalkan. Seperti istilah jawa “Wong legan golek momongan” artinya “seperti orang yang tidak punya kerjaan saja”

Ps. : De…. aku isoh ngomong akeh kih