Search

Blog-nya Papa RaDekAndra

Berbagi pengalaman hidup

NADZAR

Hari itu begitu kelabu bagi seorang wanita tua renta yang tertatih-tatih hendak ke apotik untuk membeli obat. Oh ya… nama orang tua itu adalah Suharni, beliau adalah seorang pedagang kaki lima di sekitar daerah pasar tempat aku kost dulu, dan setahuku dia sebatang kara karena aku pernah mendengar dari ibu kost-ku kalau beliau sudah tidak mempunyai suami lagi dan tidak berputera. Sedangkan sanak familipun sudah tidak punya karena dulu waktu menikah dengan suaminya tidak ada seorang anggota keluarganya yang menyetujui dan memilih untuk menjauhi dan tidak mengakui beliau lagi.

Mungkin karena cuaca yang terus mendung dan udara yang dingin membuat tubuh orang tua yang telah rentan dimakan usia tersebut menjadi ringkih… sedikit-sedikit terdengar dia batuk dan aku lihat sepintas kemudian dia mengurut dadanya biar lebih lega dadanya. Tak berapa lama kemudian karena mungkin sedari pagi dia belum makan dan kemungkinan lidahnya terasa pahit untuk merasakan makanan maka tiba-tiba dia limbung dan terjatuh. Kemudian ada seorang tukang becak langsung menghampiri dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

Untuk beberapa hari kemudian dia mengisi kekosongan hidupnya di rumah sakit dengan bercanda dengan para perawat dan para pembezuk yang menjenguk kawan seruangannya. Dan sesekali tukang becak yang telah membawanya ke rumah sakit menjenguk bersama anak istrinya untuk sekedar bertanya keadaannya. Kemudian entah bagaimana, tukang becak tersebut dianggapnya saudara.

Karena merasakan sepi sendiri tidak ada yang menjenguk bahkan untuk sekedar basa basi akhirnya beliau bernadzar bahwa apabila nanti jika sudah sembuh akan mengunjungi setiap orang yang sakit di mana dia pernah dirawat.

Sekarang saya sudah bekerja di daerah lain. Tetapi suatu ketika saya menjenguk rekan sekerja yang kebetulan rumahnya di jogja dan dirawat Rumah Sakit tersebut, saya kaget melihat beliau membezuk para pasien di Rumah Sakit tersebut apabila jam bezuk sore mulai dibuka.

Masya Allah seseorang yang sangat berhati mulia……

Back To School

Hari Rabu yang melelahkan pikiran…

Bagaimana tidak dengan perasaan was-was dan irama jantung yang serasa berdegup kencang seperti jantung ini mau berhenti berdenyut…aku tiba di kampusku lagi setelah sekian lama kutinggalkan tanpa pamit.

Begitu keluar dari gerobak tuaku dan menginjak  tanah yang basah karena mungkin tadi malam hujan, kulihat sekeliling… ah begitu rindangnya sekarang halaman kampusku. Dan kulihat mobil-mobil dosen terjejer rapi seakan-akan menanyakan kabar kepada gerobak tuaku. Kakiku serasa beratz untuk masuk kedalam gedung. Lalu dengan langkah sedikit mantap kuangkat kakiku menuju…. kamar mandi, hahahahahaha… aku sampai kebelet pipis karena memikirkan nantinya bagaimana untuk menghadap dosen.

Lalu masuk ke bagian pengajaran, mahasiswa-mahasiswa sudah penuh sesak untuk saling berlomba-lomba  menanyakan ke bagian pengajaran dan mengisi KRS (Kartu Rencana Studi). Lalu tiba-tiba didepanku sudah nongol seseorang di bagian pengajaran yang kukenal dekat langsung menyapaku ” Lha ini yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga” katanya. Aku kaget setengah mati sampek njondil (melonjak-jawa:red). “Hehehehehe…”aku tertawa kecut. Lalu kutanya “Mbak… aku masih diakui sebagai mahasiswa sini nggak? dia nyahut “Oh… gini aja sampeyan langsung aja ke pak wakil ketua jurusan nanti gimana-gimananya tergantung beliau..”

“Yup makasih mbak” setelah mengucapkan terima kasih langsung aku menuju ruangan beliau. Sambil mengendap-gendap dan jantung serasa sangat kencang sekali aku mengetok pintu tok..tok..tok

“Ya…Masuk…” dari dalam suaranya sangat beratz sekali. “Maaf pak” sapaku. Lalu aku dipersilahkan duduk. “Ada apa dik?” beliau bertanya dengan mimik muka sumringah. Wah makcles hatiku karena beliau orangnya sangat ramah suaranya serak karena ternyata baru sakit tenggorokan, aku bisa menebak karena disamping laptopya ada obat batuk. Kemudian aku mengutarakan maksudku. Beliau mengangguk-angguk tanda mengerti keadaanku. Lalu dia telp ke bagian pengajaran menanyakan kalau ada mahasiswa dengan permasalahan seperti aku bagaimana, sambil manggut-manggut kemuadian beliau berkata kepadaku “Gini aja dik… anda ke gedung KPTU trus menghadap ke bu eni minta surat yang diperlukan nanti menghadap saya lagi.” Ah… plong rasanya walaupun masih terkatung-katung nasibku tapi hati ini terasa lega karena beban yang menghimpit sudah keluar. Lalu bergegas minta pamit dan langsung meluncur ke gedung dimaksud, menghadap ke yang bersangkutan dan dibuatkan surat seperti yang aku perlukan. Setelah mengucapkan terima kasih langsung kembali lagi ke wakil ketua jurusan. Tanpa banyak cerita lalu aku disuruh ke Ketua jurusan untuk mendapatkan rekomendasi. Hatiku kembali dag dig dug, karena aku belum pernah menghadap beliau seperti aku belum pernah menghadap wakil ketua jurusan tersebut. Hatiku kecewa, kenapa tidak beliau saja yang memberikan rekomendasi khan beliau orangnya ramah dan aku juga belum tahu apakah nanti ketua jurusan seramah beliau.

Seperti waktu mengetuk pintu masuk ruangan wakil ketua jurusan, aku juga berhati-hati untuk mengetuk pintu beliau tok … tok… tok… aku melongokkan kepalaku untuk meminta permisi beliau. Tapi tanpa dinyana-nyana beliau menjulurkan tangannya sambil menggerakkan tangan tanda jangan masuk dulu, makdeg kenapa ya…? dengan menundukkan kepala aku sekilas beliau mengambil handphone dari tempatnya kemudian mengangkatnya… oh… ternyata akan menerima telepon dulu. Aku mundur selangkah dan menutup pintu. Selang beberapa saat aku mengetuk pintu lagi dan dipersilahkan masuk. Seperti mengutarakan kepada wakil ketua jurusan aku bercerita dengan menundukkan kepala tanda pasrah dan menjulurkan surat dari KPTU. Dia mengangguk-angguk lalu berkata ” Yah… kita harus sabar dik.” Ha..? Aku heran dalam hati, kok ternyata beliau juga ramah… wah beruntung aku. Tapi apa karena aku juga cerita kalau salah satu dosen disini pernah mengerjakan kegiatan dikantorku trus kemudian jadi ramah? Tapi nggak pentinglah.. yang penting aku kemudian mendapatkan rekomendasi beliau untuk diperkenankan kembali kuliah. Surat itu lalu aku serahkan kembali kegedung KPTU. Dan dengan hati gembira aku menuju bank untuk membayar SPP.

Ah…. leganya…. ternyata masih bisa kuliah lagi….

Besok jum’at kembali lagi ke kampus untuk mengisi KRS, ah…. enaknya ambil berapa SKS ya…?  Sambil berangan-angan memakai Toga dan Pakaian Wisuda.

Saya adalah termasuk orang-orang yang merugi!!!

Hari minggu lalu aku tercenung sendirian sambil menikmati kopi dan gorengan yang telah tersedia di meja memikirkan kejadian-kejadian yang begitu cepat berlalu.

Dua bulan yang lalu

Pagi – pagi itu sebelum anakku bangun dari tidurnya yang lelap, kulihat posisi tangan kanan diatas dan tangan kirinya memegangi baju mama-nya, sementara mulutnya tanpa henti mengunyah “empeng” dan sesekali kepalanya bergerak seperti orang sedang bermimpi. Lalu aku sempatkan untuk memandangi wajahnya yang sangat polos tanpa dosa dengan penuh perasaan. Kenyataannya adalah ah….. sangat tampan sekali anakku dan bangga sekali rasanya jadi bapak.

Tiba-tiba ada seseorang berbicara dibelakangku. Ternyata dia adalah ibu dan bapak mertuaku (ya… saya masih PMI-Pondok Mertua Indah), ibu mertuaku menggumam, “Anakmu wis isoh dijak dolanan lho.” bapak mertua menimpali,” ho’oh wong mau tak liling wis ngerti trus ngguyu ngekek-ngekek.”  Ah pingin segera dia bangun dan membuktikan ucapan beliau berdua. Setelah bangun kuajak bercanda sebentar buat membuktikan eh ternyata benar. Duh nyeselnya aku, nggak tahu perkembangan anak. Ah aku ermasuk orang-orang yang merugi!!!

Sebulan yang lalu

Pulang kerja jam 18.00 nyamperin istri di tempat kerja lalu pulang melewati jalanan yang penuh sesak oleh mobil-mobil pemudik, sampai rumah istri langsung masuk rumah trus aku menyandarkan brompit (sepeda motor) masuk rumah sambil bawa tas jinjing yang setiap saat setia menemani. Dengan tergopoh-gopoh ibu bilang “Nduk mas anakmu panas…” Lalu kujawab “Tenang bu nanti juga turun sendiri kalo dikasih obat penurun panas.” 1 jam kemudian memang benar ucapanku, panas anakku mulai turun. Sehari kemudian setelah pulang dari rutinitas kerja yang melelahkan aku dikasih tau ma ibu mertua “Mas anakmu kemaren panas kuwi jebule arep mundak pintere!” “Wah tambah pinter apa lagi dia?” tanyaku dalam hati. Ternyata dia sudah mulai tahu kalo diberitahu sesuatu. Kayak kalo ditanya, “Dimana cicaknya?” dia langsung mendongak lihat keatas lalu kayak mencari sesuatu di dinding dimana hewan yang bernama cicak itu biasa berada.  Duh duh hatiku tambah senang bercampur haru. Senangnya adalah tahu anak berkembang cepat seperti anak kebanyakan, terharunya kok aku tahunya belakangan seperti yang sudah-sudah dalam mengerti perkembangan anak. Aku termasuk orang-orang yang merugi!!!

Seminggu yang lalu

Waktu buka-buka milis di yahoo ada sebuah milis yang menceritakan tentang orang tua muda yang anaknya menjadi korban akibat suntikan imunisasi. Yang singkat ceritanya anaknya yang berusia sudah 27 bulan menjadi pengidap autise akut setelah selama itu mendapat suntikan imunisasi yang mengandung thiomersal/thimerosal. Setelah membaca itu perasaanku gundah karena hari sabtu kemaren anakku harus imunisasi, lalu dengan bantuan paman google sekali lagi kutemukan jawaban yang dapat menentramkan hatiku. Apakah itu thiomersal/thimerosal? yaitu sejenis bahan pengawet dan stabilizer dalam vaksin yang berguna dalam membunuh bakteri dan mencegah kontaminasi terutama pada kemasan vaksin yang telah terbuka. Seterusnya anda dapat melihat atau membaca sendiri di sini. Atau disini  untuk dapat lebih lengkap membaca dan terdapat link-link yang bekaitan dengan itu secara rinci.

Nah pas hari sabtunya aku harus masuk kantor, jadi aku tidak bisa nganter istri ke rumah sakit tempat kelahiran anakku untuk mengimunisasi anakku. Satu lagi kejadian yang benar-benar membuatku merasa menjadi orang-orang yang merugi!!!

Berbagai macam rasa bermaaf-maafan

Menjelang Iedul Fitri tiba pasti orang akan berebut untuk saling mendahului meminta maaf.

Di Era informasi sekarang media bermaafan sangat beragam. Mulai surat, telpon, HP (sms maupun telpon juga), Internet (email maupun chating).

Tapi yang namanya orang pasti belum afdhol jika belum meminta maaf secara langsung. Jadi kesimpulannya walau sudah berkirim maaf lewat media informasi berbentuk apapun tapi masih juga menyempatkan diri untuk berkunjung walau hanya untuk sekedar meminta maaf lagi.

Pembahasan ini berakhir pada pesan sebagai berikut :

Langit mendung tiada mentari
Bumi panas tiada air
Mohon maaf lahir dan batin
Biar hati kembali fitri
Amin

Bermacam Rasa Mudik

Lebaran sebentar lagi, bisa beli baju baru Alhamdulillah.

Dalam kepala menari-nari sebuah pertanyaan, yaitu kenapa pada saat lebaran semua orang pasti punya duit banyak? apa pada saat sebelum lebaran semua menabung buat nanti lebaran? Tapi tadi pagi pada saat mbaca di koran lokal ada berita penodongan alias perampokan. Dan saya pikir pasti itu rampok butuh uang cepat buat lebaran juga. Semua memang butuh lebaran, tapi caranya itu yang bikin kita berpikir 2 kali. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Tapi menjelang lebaran pasti banyak sekali orang yang silaturahmi dengan ortu, famili dekat, famili jauh, tetangga dan masih banyak lagi dengan istilah “MUDIK”

Continue reading “Bermacam Rasa Mudik”

Blog at WordPress.com.

Up ↑