Ada satu hal yang sangat penting yang harus dipahami oleh orang muslim pada umumnya mengenai tafsir tentang kewafatan Nabi Isa a.s. Bangunan agama Nasrani berlandaskan (berpondasikan) pada keyakinan diantaranya : bahwa Nabi Isa a.s wafat di tiang salib (-naudzubillah-), kemudian hidup lagi dan hidup di langit hingga sekarang. Hal itulah yang kemudian menjadi dasar trinitas. Yakni nabi Isa a.s wafat di tiang salib yang menunjukkan beliau adalah manusia, kemudian hidup lagi dan hingga sat ini berada di langit yang menunjukkan ketuhanannya.

Pernyataan (keyakinan) tersebut, secara tidak langsung menyerang agama Islam, karena di dalam Islam, telah jelas-jelas disebutkan tentang bantahan hal tersebut. Bahwa Nabi Isa a.s adalah seorang manusia yang diangkat Allah sebagai Nabi yang mulia. Bahwa Nabi Isa a.s tidak pernah menyuruh ummatnya untuk menyekutukan Allah dengan mengangkat diri beliau sendiri dan ibunda beliau menjadi sembahan orang-orang.

Jika kita sebagai seorang Muslim juga meyakini keyakinan tersebut (-bahwa Nabi Isa as wafat di tiang salib, kemudian hidup lagi-), maka secara tidak langsung kita ikut menguatkan pondasi keyakinan agama Nasrani. Dan secara tidak sadar, kita telah melukai kemurnian dan kemuliaan Al-Qur’an Majid yang kita semua sepakat, bahwa Al-Qur’an Majid adalah firman Allah Ta’ala.

Dibawah ini adalah pernyataan-pernyataan bahwa keyakinan menurut mereka tersebut adalah salah. Dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang disertai dalil-dalil yang kuat, kita dapat mematahkan serangan-serangan yang dilancarkan agama-agama lain terhadap Islam.

Inilah jihad yang telah dinubuatkan oleh junjungan kita Hz. Rasulullah saw., bahwa pada akhir zaman nanti, Islam akan bangkit dan muncul kembali serta meraih kejayaannya seperti pada zaman Rasulullah tanpa pertumpahan darah. Karena memang itulah sebenarnya hakikat Jihad yang sebenarnya. Islam TIDAK PERNAH memerintahkan melakukan peperangan/penyerangan untuk menyebarkan Islam. Sekaranglah saatnya.

Berikut ini akan disampaikan secara rinci per bagian yang didalam keterangannya memuat ayat-ayat Al-Qur’an dan juga Hadits-hadits pendukung beserta tafsirnya. Juga disampaikan dengan penggunaan logika sederhana sebagai tambahan.

Dengan hati bersih, marilah kita telaah kembali dan kaji kembali Al-Qur’an Majid dan juga hadits serta pendukung-pendukung lainnya.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

I. WAFATNYA NABI ISA A.S.

Kepercayaan tentang masih hidupnya Nabi Isa as di langit, merupakan salah satu bahaya besar bagi agama Islam. Kaum Muslimin yang percaya bahwa Nabi Isa as masih hidup di langit dengan jasad kasarnya, dengan tidak sadar mereka telah mendukung dan membantu kelangsungan hidup agama Kristen, serta lebih memuliakan Nabi Isa a.s dari pada Nabi Besar Muhammad saw. sendiri.

Semua orang Muslim juga mengakui bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Rasul Paling Mulia diantara Rasul-rasul yang diutus Allah Ta’ala. Semua orang Muslim meyakini bahwa Nabi Muhammad saw. telah wafat dan dikuburkan di suatu tempat di dunia ini. Jika Nabi Isa a.s hidup dan berada di langit beserta badan jasmaninya di ‘sisi’ Allah Ta’ala, sedangkan Hz. Rasulullah saw. wafat dan badan jasmaninya dikuburkan, maka secara logika sederhana, kita akan berpikir bahwa Nabi Isa a.s lebih mulia dibanding Hz. Rasulullah saw., karena Nabi Isa a.s berada di langit beserta badan jasmaninya dan mendapat tempat istimewa di sisi Allah, sedangkan Hz. Rasulullah saw. wafat dan dikuburkan di dunia.

Oleh karena itulah, diharapkan agar semua orang muslim mempelajari dan memahami ayat-ayat Al-Quran dan hadits Hz. Rasulullah saw tentang wafatnya Nabi Isa as agar dapat memberi keterangan dan menjelaskan baik kepada kaum Muslimin sendiri, maupun kepada golongan Kristen, bahwa Nabi Isa a.s itu telah wafat lebih kurang 2000 tahun yang lalu.

Kaum Muslimin yang beranggapan bahwa Nabi Isa as masih hidup di langit dengan badan kasarnya, mereka telah masuk kedalam golongan orang-orang yang (-maaf-) syirk. Tentang syirk Allah Ta’ala berfirman: “Innasy syirka lazulmun azim.” Sesungguhnya syirk itu zulman yang besar. Karena, secara tidak langsung, dengan pendapat seperti itu, mereka menyamakan Nabi Isa a.s dengan Allah (-Naudzubillah-)….

Al-Qur’an

a. Dalil Pertama

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Maidah (5) ayat 117 ; yang artinya: “…Dan aku sementara menjadi penjaga atas mereka selama aku diantara mereka, akan tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, maka Engkaulah yang menjadi Pengawas mereka dan Engkaulah Saksi atas segala sesuatu.”

Keterangan:

Dalam ayat ini Nabi Isa as menjawab kepada Allah Ta’ala. bahwa beliau selalu berusaha agar pengikut-pengikutnya jangan sampai menyembah tuhan lain kecuali Allah Ta’ala. Seterusnya – dengan jelas – beliau bersabda: “Tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, aku tidak tahu apa-apa yang mereka kerjakan.”

Perkataan “tawaffa” dalam ayat itu artinya mati (kematian) sebagaimana kita baca dalam surah Ali Imran (3) ayat 193; yang artinya: “Dan wafatkanlah kami dalam golongan orang-orang yang saleh.”

Apabila perkataan “tawaffa” subyeknya Allah dan obyeknya makhluk yang berjiwa, artinya selalu mati (kematian).

b. Dalil Kedua

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran (3) ayat 55; yang artinya: “Ingatlah ketika Allah berfirman “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mematikan (wafatkan) engkau secara biasa dan akan meninggikan (derajat) engkau disisi-Ku dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang yang ingkar dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau diatas orang-orang yang ingkar hingga Hari Kiamat.”

Keterangan:

Di dalam Hadits Bukhari di bawah ayat itu ditulis (didapati keterangan), bahwa Hadrat Ibnu Abbas r.a. berkata: yang artinya mematikan kamu. Dan tentang arti kata: “rofi’uka” di dalam Hadits Kanzul Ummal jilid II hal. 53 terdapat keterangan sebagai berikut: yang artinya: Apabila seorang abdi merendahkan hatinya, Allah meninggikan derajatnya sampai langit ketujuh.

c. Dalil Ketiga

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Maidah (5) ayat 75; yang artinya: “Al Masih ibnu Maryam tidak lain melainkan seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu Rasul-Rasul sebelumnya. Dan ibunya adalah seorang yang amat benar. Mereka kedua-duanya biasa makan makanan.”

Dalam surah Al-Anbiya (21) ayat 8 Allah Ta’ala berfirman lagi: yang artinya: “Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.”

Keterangan:

Nabi Isa as pun tidak terkecuali waktu beliau hidup di dunia ini harus makan. Dan juga dinyatakan bahwa tidaklah mereka (nabi-nabi) orang orang yang kekal, atau dengan kata lain, mereka pasti akan meninggal. Disitu tidak ada keterangan pengecualian, bahkan telah jelas dinyatakan bahwa semua orang tanpa terkecuali pasti akan mati, “ila ‘Isa” (kecuali ‘Isa). Tidak ada perkataan tersebut.

d. Dalil Keempat

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran (3) ayat 144, yang artinya: “Dan Muhammad tiada lain melainkan seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu Rasul-Rasul sebelumnya.”

Keterangan:

Di dalam ayat lain dalam Quran Karim Allah Ta’ala berfirman: (Surah Al Baqarah (2) ayat 143); yang artinya: “Itulah suatu ummat yang telah berlalu sesudah habis masanya.” Dalam kamus bahasa Arab “Lisanul Arab,” terdapat tulisan (keterangan) yang bunyinya berarti : Ia berlalu, apabila sudah mati. Maksud ayat itu jelas sekali, bahwa semua Rasul yang datang sebelum Muhammad saw semuanya sudah wafat.

e. Dalil Kelima

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al A’raaf (7) ayat 25; yang artinya: “Di situlah kamu akan hidup dan di situlah kamu akan mati dan dari padanyalah kamu dikeluarkan.”

Keterangan:

Jadi menurut hukum (peraturan) Allah Ta’ala sebagaimana tersebut dalam ayat diatas, manusia hidup dan mati diatas dunia inilah. Manusia tidak bisa hidup diluar bumi ini tanpa hawa (udara) dari bumi. Sebab itu Nabi Isa as pun sudah wafat.

f. Dalil Keenam

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Maryam (19) ayat 31; yang artinya: “Dan Dia menjadikan aku (Isa as) seorang yang diberkati dimana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan menunaikan zakat selama aku hidup.”

Keterangan:

Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Isa as agar selama beliau (Nabi Isa as) hidup harus mendirikan sholat dan membayar zakat. Tetapi pada dewasa ini, jika dipercaya bahwa Nabi Isa as masih hidup di “langit”, maka kepada siapakah beliau harus menunaikan kewajiban membayar zakat beliau, sedangkan yang berhak menerima zakat sudah ditentukan secara jelas dalam Qur’an (QS 9:60).

g. Dalil Ketujuh

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Anbiya (21) ayat 34: yang artinya: “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu. Maka karena itu apakah jikalau kamu mati mereka akan kekal.”

Keterangan:

Menurut ayat ini, apabila Nabi Muhammad saw wafat, tidak mungkin bagi orang-orang lain, (-misal, Nabi Isa as-), dapat hidup untuk selama-lamanya.

h. Dalil Kedelapan

Di dalam kitab Hadits Kanzul Ummal jilid IV hal. 160, Hz. Fatimah r.a. menerangkan bahwa Hadhrat Hz. Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Isa ibnu Maryam usianya seratus dua puluh tahun.”

i. Dalil Kesembilan

Hz. Rasulullah saw bersabda (lih. Tafsir Ibnu Katsir jilid II hal. 100): yang artinya: Jika Musa as dan Isa as hidup, mereka harus mengikuti aku.

Soal / Pertanyaan:

Banyak orang yang salah menafsirkan surah An-Nisa (4) ayat 159-160. Menurut mereka, Nabi Isa as tidak disalib, tetapi diangkat oleh Allah Ta’ala ke langit. Yang disalib itu adalah orang lain. (Oleh Allah Ta’ala diganti dengan orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa as).

Ayatnya berbunyi yang artinya: “Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti yang mati di atas salib. Malahan Allah Ta’ala telah meninggikan derajatnya kepada-Nya.

Jawab & Keterangan:

Perkataan “syubihat” (disamarkan/diserupakan) dalam ayat tersebut, bukan berarti bahwa orang-orang Yahudi tidak menaruh Nabi Isa as di atas salib, tetapi yang sebenarnya adalah mereka tidak menyalibkannya sampai mati.

Didalam kamus Al Munjid kita baca “salaba”, yang artinya: “Ia menyalib tulang-tulang artinya mengeluarkan sumsumnya.” Sedangkan Nabi Isa as tidak dipatahkan tulang-tulangnya. Adapun maksud perkataan “syubihat” bukan berarti bahwa Nabi Isa as disamarkan (diganti) dengan orang lain, tetapi beliau disamarkan seolah-olah telah meninggal di atas kayu salib.

Tentang perkataan “rafi’uka” sudah dijelaskan dalam dalil kedua.

Soal:

Banyak orang yang berkata, bahwa menurut Hadits Bukhari ada hadits yang artinya, Nabi Isa a.s akan turun dari langit.

Jawab:

Pertama: Di dalam hadits tersebut tidak terdapat perkataan langit.

Kedua: Perkataan ‘Anzalna’[Arab] artinya bukan turun dari langit. Contohnya yang lain kita baca dalam surah Al-Hadid (57) ayat 25, yang artinya: “Dan Kami turunkan besi.” Kita semua tahu dari mana datangnya besi. Yakni berasal dari bijih besi yang ditambang.

Juga di surah Al-Qadr (97) ayat 1, yang artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”

Ketiga: Maksud perkataan “Isa Ibnu Maryam,” tidak berarti bahwa Isa Ibnu Maryam yang dulu yang akan datang (sebab Isa Ibnu Maryam sudah wafat), tetapi yang akan datang itu orang lain yang sifat-sifatnya seperti Nabi Isa as, sebagaimana Nabi Yahya as datang dalam sifat-sifat Nabi Ilyasa a.s (Matheus Bab 17 ayat 12-13).

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik dan hidayat kepada kita semua kaum Muslimin, agar dianugrahi kemampuan untuk mengerti dan meyakini tentang wafatnya Nabi Isa as sebagaimana dijelaskan oleh dalil-dalil tersebut di atas, sebab keyakinan atau kepercayaan tentang wafatnya Nabi Isa as itu mengandung arti sukses dan kehormatan bagi agama Islam dan Rasulullah sa.w.

====================================

***** Disarikan dari berbagai sumber *****

====================================

Wassalam,

yang lemah

Abu Rafi

(*)Love for All, Hatred for None(*)

Baca Murtad Dalam Islam